.

Selasa, 04 Juni 2013

إنِّي أُحِبُّكَ في الله (Mencintai Saudara Karena Allah)



By: Drs. Yogi Syafril
Kepala Sekolah SDIT Bina Ilmi
dan Ketua Bidang Pendidikan Yayasan As-Shaff
Mencintai saudaranya karena Allah adalah ruh ukhuwwah. Mencintai karena Allah akan melapangkan dada yang berpuncak kepada kesiapan untuk mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri. Itulah gambaran ideal sebuah ukhuwwah yang berhasil diwujudkan oleh generasi Islam pertama - Muhajirin dan Anshar - yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an :
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9)
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung “ (QS 59:9).

Mencintai saudaranya karena Allah adalah lambang kesempurnaan iman. Belum sempurna keimanan seseorang dalam ukhuwwah sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, sebagaimana sabda Rasul :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ   ) صحيح البخاري(
" Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri" (HR Bukhari)

Mencintai saudaranya karena Allah sumber dari kelezatan iman (halawatul iman). Buah iman akan terasa lezat manakala (salah satunya) kita mencintai saudara kita karena Allah. Seperti yang diucapkan oleh Nabi SAW :
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ  (رواه البخاري و مسلم)
" Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka " (Mutafaqun ‘Alaih)

 Mencintai saudaranya karena Allah menjadi sebab Allah memberikan naungan-Nya pada hari kiamat di saat tak ada naungan selain naungan-Nya. Seperti yang disampaikan lewat lisan Rasulullah :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِى الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّى يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّى ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ(
Sesungguhnya Allah pada hari kiamat akan berfirman : Di manakah orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku, kini Aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat di mana tiada naungan kecuali naungan-Ku .(HR Muslim)

Mencintai saudaranya karena Allah membuat Allah  memberikan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para nabi dan para syuhada, seperti yang diinformasikan oleh Nabi saw :
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ ) سنن الترمذي(
"Allah 'azza wajalla berfirman: Orang-orang yang saling mencintai karena keluhuranKu, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat para nabi dan syuhada` iri." (HR At-Tirmidzi)

Maka, marilah kita berusaha mencintai saudara kita karena Allah. Dan jika perasaan itu mulai tumbuh jangan segan dan jangan malu untuk mengatakan kepadanya :
إنِّي أُحِبُّكَ في الله
“ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.
Demikian pesan Rasulullah saw kepada kita yang saling mencintai karena Allah.
وعن أنس - رضي الله عنه - : أنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبيِّ ، - صلى الله عليه وسلم - ، فَمَرَّ رَجُلٌ بِهِ ، فَقَالَ : يَا رَسُول الله ، أنِّي لأُحِبُّ هَذَا ، فَقَالَ لَهُ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - : (( أأعْلَمْتَهُ ؟ )) قَالَ : لا . قَالَ : (( أعْلِمْهُ )) فَلَحِقَهُ ، فَقَالَ : إنِّي أُحِبُّكَ في الله ، فَقَالَ : أَحَبَّكَ الَّذِي أحْبَبْتَنِي لَهُ . رواه أَبُو داود بإسناد صحيح .
Anas r.a berkata : Ada seorang duduk di sisi Nabi saw, mendadak ada seorang berjalan, maka orang itu berkata : Ya Rasulullah aku sungguh mencintai orang itu. Nabi bertanya : Apakah engkau sudah memberitahu bahwa kau cinta kepadanya ? Jawabnya : belum . Rasul bersabda: beritahulah ia. Maka dikejarnya dan dikatakan kepadanya : Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah. Jawabnya : Semoga Allah mencintaimu, sebagaimana engkau mencintaiku karena Allah (HR Abu Dawud)

Wallahu ‘alam.




0 komentar:

Posting Komentar