Penghargaan adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis manusia. Manusia akan
mencurahkan segala kemampuan dan usahanya agar dihargai, sehingga ia merasa
berharga dan mempunyai kedudukan tinggi.
Allah SWT sebagai pencipta manusia sangat tahu hal
itu. Oleh karena itu Allah “tidak segan” memberikan penghargaan dan memberikan “maqoman
mahmudan” (tempat/kedudukan terpuji) kepada manusia yang memang layak
mendapatkannya. Siapakah manusia beruntung yang akan mendapat posisi tersebut ?
Ternyata posisi
tersebut Allah berikan sebagai penghargaan kepada seorang hamba yang rajin
melakukan Qiyamul Lail (Tahajud), sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Isra
ayat 79 :
وَمِنَ
اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ
مَقَاماً مَّحْمُوداً {79}سورة الإسراء
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang
tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu
mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS Al Isra:79).
Ada rahasia apa gerangan di balik Qiyamul Lail
sehingga orang yang melakukannya mendapatkan tempat khusus di sisi Allah ?
Qiyamul Lail merupakan refleksi dari
kesempurnaan iman kita kepada (ayat-ayat) Allah. Sebagaiman firman-Nya :
إِنَّمَا
يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً
وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ {15} {س} تَتَجَافَى
جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {16} سورة
السجدة
“Sesungguhnya orang
yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila
diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan
memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari
tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut
dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan” (QS
As-Sajdah:15-16)
Qiyamul Lail adalah investasi untuk
meraih surga yang dicita-citakan di akhirat kelak.
إِنَّ
الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ {15} آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ {16} كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ
اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ {17} سورة
الذاريات
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam
taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,sambil menerima segala pemberian
Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang
berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam”. (QS Adzaariyat:15-17)
Qiyamul Lail merupakan wujud rasa
syukur hamba terhadap limpahan nikmat yang telah diberikan Rabbnya. Sebagaimana
yang dilakukan dan dinyatakan oleh Rasulullah kepada Aisyah RA:
عن عائشة رَضي الله عنها : أنَّ النَّبيّ - صلى الله عليه
وسلم - كَانَ يقُومُ مِنَ اللَّيلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لَهُ :
لِمَ تَصنَعُ هَذَا يَا رسولَ الله ، وَقدْ غَفَرَ الله لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ :
أَفَلا أُحِبُّ أنْ أكُونَ عَبْداً شَكُوراً (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ(
“Dari Aisya RA, dia berkata : “ Nabi SAW biasa
melaksanakan Qiyamul Lail, hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aku pun
bertanya kepadanya ,’ Kenapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah,
padahal engkau telah diampuni dosa-dosamu; baik yang telah lewat maupun yang
akan datang ?’ Rasulullah bersabda ,’ Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang
bersyukur ?’” (Mutafaqun Alaih)
Qiyamul Lail menjadi sumber energi bagi jiwa untuk melewati
hari-hari dengan penuh semangat dalam melakukan berbagai aktifitas kebaikan.
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ
رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ:
عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ
انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى
انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ
خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ (رواه بخاري و مسلم(
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat
dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia
meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah
dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali
ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan
shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan
merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak
melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas
beraktifitas”.(HR Bukhari & Muslim)
Qiyamul Lail menjadi tolok ukur dimasukannya seseorang ke dalam kelompok “Ahlul Dzikri”
مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya
kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka
mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang
banyak berzikir kepada Allah.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)









0 komentar:
Posting Komentar