.

Senin, 17 Juni 2013

ROAD TO “ MAQOMAN MAHMUDAN ”



Penghargaan adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis manusia. Manusia akan mencurahkan segala kemampuan dan usahanya agar dihargai, sehingga ia merasa berharga dan mempunyai kedudukan tinggi.

Allah SWT sebagai pencipta manusia sangat tahu hal itu. Oleh karena itu Allah “tidak segan” memberikan penghargaan dan memberikan maqoman mahmudan” (tempat/kedudukan terpuji) kepada manusia yang memang layak mendapatkannya. Siapakah manusia beruntung yang akan mendapat posisi tersebut ?

Ternyata posisi tersebut Allah berikan sebagai penghargaan kepada seorang hamba yang rajin melakukan Qiyamul Lail (Tahajud), sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Isra ayat 79 :
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً {79}سورة الإسراء
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS Al Isra:79).

Ada rahasia apa gerangan di balik Qiyamul Lail sehingga orang yang melakukannya mendapatkan tempat khusus di sisi Allah ?


Qiyamul Lail merupakan refleksi dari kesempurnaan iman kita kepada (ayat-ayat) Allah. Sebagaiman firman-Nya :
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ {15} {س} تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {16} سورة السجدة
Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan” (QS As-Sajdah:15-16)

Qiyamul Lail adalah investasi untuk meraih surga yang dicita-citakan di akhirat kelak.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ {15} آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ {16} كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ {17} سورة الذاريات
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam”. (QS Adzaariyat:15-17)

Qiyamul Lail merupakan wujud rasa syukur hamba terhadap limpahan nikmat yang telah diberikan Rabbnya. Sebagaimana yang dilakukan dan dinyatakan oleh Rasulullah kepada Aisyah RA:
عن عائشة رَضي الله عنها : أنَّ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقُومُ مِنَ اللَّيلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصنَعُ هَذَا يَا رسولَ الله ، وَقدْ غَفَرَ الله لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ :  أَفَلا أُحِبُّ أنْ أكُونَ عَبْداً شَكُوراً (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ(

Dari Aisya RA, dia berkata : “ Nabi SAW biasa melaksanakan Qiyamul Lail, hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aku pun bertanya kepadanya ,’ Kenapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah, padahal engkau telah diampuni dosa-dosamu; baik yang telah lewat maupun yang akan datang ?’ Rasulullah bersabda ,’ Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur ?’” (Mutafaqun Alaih)


Qiyamul Lail menjadi sumber energi bagi jiwa untuk melewati hari-hari dengan penuh semangat dalam melakukan berbagai aktifitas kebaikan.
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ (رواه بخاري و مسلم(
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas beraktifitas”.(HR Bukhari & Muslim)

Qiyamul Lail menjadi tolok ukur dimasukannya seseorang ke dalam kelompok “Ahlul Dzikri

مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Maka apalagi yang kita tunggu ? Mari kita berusaha untuk melakukan Qiyamul Lail agar Allah menempatkan kita ke dalam Maqoman Mahamudan.
 

0 komentar:

Posting Komentar