.

INFO PENERIMAAN SISWA BARU

Dapatkan Layanan Pendidikan Islam Terpadu BINA ILMI dengan biaya lebih terjangkau Penerimaan : 1 dec 2014 Observasi Calon siswa baru Tahap 1 31 januari 2015

Truly SIT

MENUJU SEKOLAH NASIONAL BERSTANDAR MUTU SEKOLAH ISLAM TERPADU

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 30 Juni 2013

IKATAN HATI



Persatuan pangkal kekuatan. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, adalah peribahasa lama yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi kesepakatan umum tentang  kekuatan persatuan . Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan, menjadi bukti lain dari kekuatan persatuan yang diungkapkan para demonstran.

Persatuan perlu ikatan. Semakin kuat ikatan yang dipakai semakin kokoh persatuan. Sebaliknya ketika ikatan yang dipakai lemah akan lemah juga persatuan yang terjalin. Ada banyak ikatan yang dipakai manusia untuk membuat persatuan.

Ada yang bersatu karena ikatan kesukuan. Puncaknya memunculkan ashobiyah (fanatisme kesukuan) yang berujung pada peperangan antar suku yang turun temurun, seperti yang diperagakan suku aus dan khajraj sebelum kedatangan Islam.

Ada yang bersatu karena ikatan kebangsaan. Puncaknya memunculkan chauvinisme (paham kebangsaan yang sempit) yang berakhir dengan pertempuran antar bangsa, seperti peperangan yang dikobarkan Adolf Hitler di Eropa dengan mengusung semboyan  Deutschland über alles (Jerman di atas segala bangsa).

Ada yang bersatu karena ikatan  ras.  Puncaknya melahirkan rasialisme, seperti kebijakan politik apharteid yang pernah diterapkan orang kulit putih di Afrika Selatan yang telah memarjinalkan orang-orang kulit hitam di tanahnya sendiri.

Ada yang bersatu karena ikatan kepentingan. Puncaknya melahirkan pragmatisme kepentingan yang sekilas tampak bersatu tetapi sesungguhnya mereka centang perenang dan rentan perpercahan, seperti yang digambarkan Allah di Al-Qur’an dalam Surat Al-Hasyr ayat 14 :


تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى
kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah....”

Dan ada yang bersatu karena hatinya diikat oleh Allah. Melahirkan Ukhuwwah Islamiyyah yang puncaknya adalah Al-Itsar (mengutamakan orang lain dari dirinya sendiri) seperti yang pernah diperlihatkan oleh shahabat anshar kepada shahabat muhajirin yang diabadikan Allah di Al-Qur’an.
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9)
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung “ (QS Al-Hasyr : 9)

Terikatnya hati karena Allah adalah nikmat  karena akan mengeluarkan  manusia dari bencana  permusuhan dan menyelamatkannya dari tepi jurang api neraka.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS Ali-Imran:103)

Terikatnya hati karena Allah, adalah ikatan paling mahal yang harganya melebihi seluruh harta yang ada di muka bumi.
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (63)
Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Anfal:63)

Terikatnya hati karena Allah, adalah rahmat  yang diberikan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119)
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat,kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS Huud : 118-119)


Maka mari kita jaga kesucian ikatan hati yang telah terjalin diantara kita dengan sebaik-baiknya, jangan sampai ternoda oleh kotoran dan sampah dunia.

Senin, 17 Juni 2013

ROAD TO “ MAQOMAN MAHMUDAN ”



Penghargaan adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis manusia. Manusia akan mencurahkan segala kemampuan dan usahanya agar dihargai, sehingga ia merasa berharga dan mempunyai kedudukan tinggi.

Allah SWT sebagai pencipta manusia sangat tahu hal itu. Oleh karena itu Allah “tidak segan” memberikan penghargaan dan memberikan maqoman mahmudan” (tempat/kedudukan terpuji) kepada manusia yang memang layak mendapatkannya. Siapakah manusia beruntung yang akan mendapat posisi tersebut ?

Ternyata posisi tersebut Allah berikan sebagai penghargaan kepada seorang hamba yang rajin melakukan Qiyamul Lail (Tahajud), sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Isra ayat 79 :
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً {79}سورة الإسراء
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS Al Isra:79).

Ada rahasia apa gerangan di balik Qiyamul Lail sehingga orang yang melakukannya mendapatkan tempat khusus di sisi Allah ?


Qiyamul Lail merupakan refleksi dari kesempurnaan iman kita kepada (ayat-ayat) Allah. Sebagaiman firman-Nya :
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ {15} {س} تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {16} سورة السجدة
Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan” (QS As-Sajdah:15-16)

Qiyamul Lail adalah investasi untuk meraih surga yang dicita-citakan di akhirat kelak.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ {15} آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ {16} كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ {17} سورة الذاريات
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam”. (QS Adzaariyat:15-17)

Qiyamul Lail merupakan wujud rasa syukur hamba terhadap limpahan nikmat yang telah diberikan Rabbnya. Sebagaimana yang dilakukan dan dinyatakan oleh Rasulullah kepada Aisyah RA:
عن عائشة رَضي الله عنها : أنَّ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقُومُ مِنَ اللَّيلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصنَعُ هَذَا يَا رسولَ الله ، وَقدْ غَفَرَ الله لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ :  أَفَلا أُحِبُّ أنْ أكُونَ عَبْداً شَكُوراً (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ(

Dari Aisya RA, dia berkata : “ Nabi SAW biasa melaksanakan Qiyamul Lail, hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aku pun bertanya kepadanya ,’ Kenapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah, padahal engkau telah diampuni dosa-dosamu; baik yang telah lewat maupun yang akan datang ?’ Rasulullah bersabda ,’ Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur ?’” (Mutafaqun Alaih)


Qiyamul Lail menjadi sumber energi bagi jiwa untuk melewati hari-hari dengan penuh semangat dalam melakukan berbagai aktifitas kebaikan.
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ (رواه بخاري و مسلم(
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas beraktifitas”.(HR Bukhari & Muslim)

Qiyamul Lail menjadi tolok ukur dimasukannya seseorang ke dalam kelompok “Ahlul Dzikri

مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Maka apalagi yang kita tunggu ? Mari kita berusaha untuk melakukan Qiyamul Lail agar Allah menempatkan kita ke dalam Maqoman Mahamudan.
 

Senin, 10 Juni 2013

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ....


Tidaklah sama antara gelap dan cahaya. Tak ada yang bisa dilihat dalam gelap kecuali kegelapan. Tak ada yang bisa diketahui dalam gelap kecuali ketidaktahuan. Tak ada jalan yang bisa dilalui dalam gelap kecuali kesesatan. Sebaliknya, dalam cahaya segalanya terang benderang, semuanya jelas tegas. Jalan yang akan dilalui pun terbentang tanpa ada kesamaran sedikitpun.

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ (20)

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya (QS 35: 19-20).

Allah menghendaki dan selalu membimbing manusia agar berada dalam cahaya-Nya. Cahaya Allah menerangi jalan kehidupan manusia yang akan menghantarkannya pada keselamatan hidup di dunia dan akhirat yang muaranya adalah surga. Sedangkan Thagut (syetan dkk) menginginkan dan selalu berupaya menarik manusia ke dalam kegelapan. Kegelapan menyesatkan jalan kehidupan manusia yang menjerumuskan manusia pada kecelakaan hidup di dunia dan akhirat yang berujung kepada neraka.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (257)

“Allah adalah wali/ penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 257)

Zhulumaat (kegelapan-kegelapan) adalah kekafiran dan nur (cahaya) adalah keimanan. Sebagaimana menurut Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah :

يُخْرِجُهُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْكُفْرِ إِلى نُوْرِ الْإِيْمَانِ

“Maksudnya, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan.” (Jami’ al-Bayan [5/424] asy-Syamilah)
Imam Ibu Jarir rahimahullah juga mengatakan, “Diriwayatkan dari adh-Dhahhak tentang ayat ‘Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya’ bahwa yang dimaksud dengan ‘kegelapan-kegelapan’ adalah kekafiran sedangkan ‘cahaya’ adalah keimanan. ‘Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan’ maksudnya mengeluarkan mereka dari keimanan menuju kekafiran.” (Jami’ al-Bayan [5/425] asy-Syamilah)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
“Allah ta’ala menyebutkan lafal cahaya dalam bentuk tunggal dan menyebutkan kegelapan dalam bentuk plural/jamak, hal itu dikarenakan kebenaran itu satu sedangkan kekafiran itu banyak ragamnya dan seluruhnya adalah kebatilan.”              (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/685] asy-Syamilah).

Cahaya itu Allah pancarkan ke bumi dengan mengutus Rasul-Nya yang membacakan ayat-ayat-Nya (Tilawah), membersihkan jiwa (Tazkiyah) dan mengajarkan kitab dan hikmah (Ta’limul Manjah). Itulah karunia besar yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (164)

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata “ ( QS Ali Imran : 164).

Karunia besar yang diberikan Allah adalah mengangkat manusia dari jurang kegelapan dan kesesatan dengan diutusnya Rasulullah SAW yang membacakan ayat-ayat Allah (Tilawah),  membersihkan jiwa dengan ayat tersebut (Tazkiyah) dan mengajarkan kitab dan hikmah (Ta’limul Manhaj) sehingga kehidupan manusia menjadi terang benderang dan berada dalam petunjuk.
Secara konsepsional, hadirnya Rasul dengan proses tilawah, tazkiyah dan ta’limul kitab wal hikmah itulah yang kemudian kita kenal dengan  Tarbiyah Islamiyyah (baca Tarbiyah).

Jadi Tarbiyah adalah karunia besar dari Allah terhadap orang-orang yang selalu menginginkan berada dalam naungan cahaya-Nya. Maka apapun yang terjadi tetaplah dalam pangkuannya.




Selasa, 04 Juni 2013

إنِّي أُحِبُّكَ في الله (Mencintai Saudara Karena Allah)



By: Drs. Yogi Syafril
Kepala Sekolah SDIT Bina Ilmi
dan Ketua Bidang Pendidikan Yayasan As-Shaff
Mencintai saudaranya karena Allah adalah ruh ukhuwwah. Mencintai karena Allah akan melapangkan dada yang berpuncak kepada kesiapan untuk mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri. Itulah gambaran ideal sebuah ukhuwwah yang berhasil diwujudkan oleh generasi Islam pertama - Muhajirin dan Anshar - yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an :
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9)
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung “ (QS 59:9).

Mencintai saudaranya karena Allah adalah lambang kesempurnaan iman. Belum sempurna keimanan seseorang dalam ukhuwwah sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, sebagaimana sabda Rasul :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ   ) صحيح البخاري(
" Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri" (HR Bukhari)

Mencintai saudaranya karena Allah sumber dari kelezatan iman (halawatul iman). Buah iman akan terasa lezat manakala (salah satunya) kita mencintai saudara kita karena Allah. Seperti yang diucapkan oleh Nabi SAW :
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ  (رواه البخاري و مسلم)
" Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka " (Mutafaqun ‘Alaih)

 Mencintai saudaranya karena Allah menjadi sebab Allah memberikan naungan-Nya pada hari kiamat di saat tak ada naungan selain naungan-Nya. Seperti yang disampaikan lewat lisan Rasulullah :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِى الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّى يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّى ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ(
Sesungguhnya Allah pada hari kiamat akan berfirman : Di manakah orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku, kini Aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat di mana tiada naungan kecuali naungan-Ku .(HR Muslim)

Mencintai saudaranya karena Allah membuat Allah  memberikan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para nabi dan para syuhada, seperti yang diinformasikan oleh Nabi saw :
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ ) سنن الترمذي(
"Allah 'azza wajalla berfirman: Orang-orang yang saling mencintai karena keluhuranKu, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat para nabi dan syuhada` iri." (HR At-Tirmidzi)

Maka, marilah kita berusaha mencintai saudara kita karena Allah. Dan jika perasaan itu mulai tumbuh jangan segan dan jangan malu untuk mengatakan kepadanya :
إنِّي أُحِبُّكَ في الله
“ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.
Demikian pesan Rasulullah saw kepada kita yang saling mencintai karena Allah.
وعن أنس - رضي الله عنه - : أنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبيِّ ، - صلى الله عليه وسلم - ، فَمَرَّ رَجُلٌ بِهِ ، فَقَالَ : يَا رَسُول الله ، أنِّي لأُحِبُّ هَذَا ، فَقَالَ لَهُ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - : (( أأعْلَمْتَهُ ؟ )) قَالَ : لا . قَالَ : (( أعْلِمْهُ )) فَلَحِقَهُ ، فَقَالَ : إنِّي أُحِبُّكَ في الله ، فَقَالَ : أَحَبَّكَ الَّذِي أحْبَبْتَنِي لَهُ . رواه أَبُو داود بإسناد صحيح .
Anas r.a berkata : Ada seorang duduk di sisi Nabi saw, mendadak ada seorang berjalan, maka orang itu berkata : Ya Rasulullah aku sungguh mencintai orang itu. Nabi bertanya : Apakah engkau sudah memberitahu bahwa kau cinta kepadanya ? Jawabnya : belum . Rasul bersabda: beritahulah ia. Maka dikejarnya dan dikatakan kepadanya : Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah. Jawabnya : Semoga Allah mencintaimu, sebagaimana engkau mencintaiku karena Allah (HR Abu Dawud)

Wallahu ‘alam.