مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79)
“ Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah
berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada
manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah
Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan
kamu tetap mempelajarinya” (QS Ali Imran:79)
Menjadi Rabbani adalah visi pencapaian diri
seorang manusia. Manusia harus merubah dan memperbaiki dirinya secara bertahap
menuju kondisi terbaik yang mungkin dicapai olehnya, sampai menjadi seorang
manusia Rabbani sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.
Apa itu Rabbani ?
Para pakar (ulama) bahasa Arab menyebutkan Rabbani
adalah mashdar shina’i (mashdar bentukan) yang dinisbatkan kepada Rabb,
ditambah dengan alif dan nun tanpa qiyas tertentu. Kata Rabbani biasanya
ditujukan kepada manusia sebagai lagob (julukan). Manusia Rabbani adalah
manusia yang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Allah, tahu dan
mengamalkan ajaran agama maupun kitab-Nya (DR. Yusuf Al-Qardhawi, Al-Khashaaish
Al-Ammah Li Al-Islam)
Imam Jalaluddin Asy-Syuyuthi dan Imam
Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy dalam tafsirnya yang dikenal dengan
Tafsir Jalalain menyebutkan Rabbani adalah :
علماء
عاملين منسوبين إلى ( الربّ ) بزيادة ألف ونون تفخيماً
“ Ulama-ulama yang beramal saleh, dinisbatkan kepada Rabb dengan
tambahan alif dan nun sebagai penghormatan “
Imam Ibn Jarir al-Thabari,
yang dikenal dengan sebutan Imamul mufassirin, menyebutkan secara definitif 5
kualifikasi utama yang harus dimiliki seorang manusia Rabbani.
“الرباني : ” الجامع إلى
العلم والفقه، البصر بالسياسة والتدبير والقيام بأمور الرعية، وما يصلحهم في
دُنياهم ودينهم .
Manusia Rabbani adalah manusia yang
- Berilmu pengetahuan (ilmu)
- Memahami Islam dengan sangat baik (faqih)
- “Melek” Politik (bashir bi siyasah)
- “Melek” manajemen (bashir bi tadbir)
- Melaksanakan segala urusan rakyat yang mendatangkan kemashlahatan, baik dalam urusan dunia maupun agama.
Sebuah kualifikasi yang sangat berat bahkan untuk saat ini nampaknya mustahil bisa dicapai oleh seorang manusia.
Manusia sempurna yang terkumpul dalam dirinya kepakaran dan kemampuan qauliyah
(syariah, fiqih, da’wah, hadits, dsb) dan kauniyah
(sains-teknologi, sosial-politik, ekonnomi-manajemen, dsb). Memang begitulah
seharusnya kita. Tak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahun umum
,tak ada pemisahan antara ulama dan mujahid.
Abbas As-Siisiy dalam bukunya At-Thariq ilal
Qulub, mengungkapkan satu fakta sejarah bahwa kurang lebih 400 tahun yang lalu,
pada masa pemerintahan sultan Turki Sulaiman Basya al Qanuni, pernah membuat
iklan lowongan kerja sebagai imam Masjid Istambul dengan syarat-syarat sebagai
berikut :
1. Menguasai bahasa Arab, Latin ,Turki, dan
Persia
2. Menguasai Al-Quran, Injil, dan Taurat
3. Menguasai ilmu syariat
4. Menguasai Ilmu Alam, Matematika dan mampu
mengajarkannya
5. Pandai berkuda, bermain pedang dan
berperang
6. Berpenampilan menarik
7. Bersuara indah
Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa manusia berkualifikasi Rabbani adalah sesuatu yang mungkin dicapai
oleh manusia, jika manusia berusaha mencapainya.
Bagaimana cara menjadi Rabbani ?
Ternyata caranya mudah yaitu dengan
Mengajar-Belajar Al-Kitab (Al-Qur’an)
بِمَا كُنْتُمْ
تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ.......
.......karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan
disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS Ali
Imran:79)
Bukankah itu bagian dari tarbiyah yang kita jalani selama ini ? Mungkin
kita masih jauh dari kualifikasi Rabbani sebagaimana yang didefiniskan Imam Ibn Jarir al-Thabari dalam tafsirnya, tapi setidaknya saat ini
kita sudah berada pada jalan yang benar untuk menjadi seorang Rabbani.








0 komentar:
Posting Komentar