SUMANTO adalah sebuah nama yang
pernah menggegerkan dunia kemanusian di negeri ini. Tanpa rasa bersalah dia tega memakan
daging manusia yang telah menjadi mayat untuk memperoleh satu kesaktian yang
diyakininya. Orang bergidik, memaki dan
menyumpahi perbuatannya. Kata-kata gila, binatang, biadab dan kata-kata kasar
lainnya tak ayal lagi disematkan padanya.
Wajar kita benci pada perbuatan Sumanto bahkan harus benci, tetapi
terkadang atau bahkan mungkin seringkali kita melakukan perbuatan seperti yang
dilakukan Sumanto. Bukan melakukan dalam arti yang sebenarnya, tapi dalam arti
kiasan. Perbuatan apa gerangan yang dikiaskan dengan perbuatan Sumanto ? Yaitu
menggunjingkan saudara kita atau yang disebut dalam bahasa agama dengan GHIBAH.
Allah melarang keras Ghibah dalam QS Al-Hujurat
ayat 12 Alah dan mengasosiakannya dengan memakan daging saudara yang sudah mati
alias makan bangkai manusia. “.......dan
janganlah mengghibah satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang “ (QS Al-Hujurat:12)
Bukankah secara ma’nawi itu sama dengan perbuatan yang dilakukan Sumanto ?
Apa yang dimaksud dengan Ghibah ? Rasululllah mendefinisikan Ghibah dengan " ذِكْرُكَ أَخَاكَ
بِمَا يَكْرَهُ " (membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak
disukainya). Para shahabat bertanya kepada Rasululalah “ Bagaimana
kalau seandainya apa yang kita ucapkan tentang saudara kita memang benar adanya
?’. Itulah yang dinamakan Ghibah. Jika apa yang kita ucapkan tentang saudara
kita tidak benar itu sebuah kedustaan yang dosanya jauh lebih besar lagi.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- قَالَ :« أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ ». قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَعْلَمُ. قَالَ :« ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ
كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ؟ قَالَ :« إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ
اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ » (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah RA, bahwasannya Rasulullah SAW
bersabda ,” Tahukah kalian apakah ghibah itu ?” Para shahabat menjawab ,” Allah
dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Kemudian beliau bersabda ,” Yaitu
membicarakan saudaramu yang ia tidak suka bila mendengarnya”. Lalu beliau
ditanya kembali ,” Bagaiman pendapat engkau kalau itu (pembicaraan tersebut)
memang benar terjadi ?” Beliau menjawab ,” Kalau memang sesuai dengan
pembicaraanmu, maka itulah ghibah, tetapi jika kamu menyebut sesuatu yang tidak
sebenarnya terjadi, berarti kamu telah menuduhnya dengan kebohongan (yang
dosanya jauh lebih besar) “ (HR Muslim)
Begitu kejinya ghibah, sampai-sampai ungkapan Siti Aisyah RA (sebagai
ekspresi kecemburuan) terhadap Shofiyyah RA (istri Rasulullah keturunan Yahudi)
dianggap Rasulullah sebagai kalimat yang dapat merubah (warna dan bau) air
lautan. Padahal ungkapan tersebut dinyatakan Siti Aisyah RA hanya dengan sebuah
isyarat tangan.
وعن عائشة
رَضِيَ اللهُ عنها ، قالت : قُلْتُ للنبيّ - صلى الله عليه وسلم - : حَسْبُكَ مِنْ
صَفِيَّةَ كذَا وكَذَا . قَالَ بعضُ الرواةِ : تَعْنِي قَصيرَةً ، فقالَ : لَقَدْ
قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ البَحْرِ لَمَزَجَتْهُ ! (رواه
أبو داود والترمذي )
Dari
Aisyah RA, dia berkata kepada Nabi SAW,” Cukuplah bagimu shafiyah, ia begini
dan begitu.” Sebagian perawi hadits berkata, bahwa Shafiyah bertubuh pendek.
Maka Nabi pun bersabda ,” Kamu telah mengucapkan satu kalimat sangat keji,
andaikan ia dicampur dengan air laut niscaya dapat merubahnya (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Jadi hati-hati jika ingin membicarakan sesuatu tentang saudara yang dia
tidak suka jika mendengarnya, karena
- Jika benar, akan menjadi Ghibah yang diasosiasikan oleh Allah dengan makan daging saudaranya yang sudah menjadi mayat.
- Jika tidak benar, akan menjadi Dusta yang dosanya bisa lebih besar lagi, karena kita telah menfitnahnya.
Kekurangan, kesalahan
atau aib saudara kita bukanlah untuk dibicarakan dan disebarkan tetapi untuk
diperbaiki jika memang kita melihatnya dengan penuh rasa cinta dan kasih
sayang. Tentu kita tidak mau menjadi “Sumanto” yang makan daging manusia
yang sudah jadi mayat. Maka menjaga lisan adalah solusi tepat untuk menjaga
kita dari hal tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : مَنْ يَضْمَنْ لِى مَا بَيْنَ
لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ (رواه البخاري ومسلة)
Dari Sahl bin
Sa’ad, dia berkata ,” Rasulullah bersabda ,’ Barangsiapa yang bisa menjamin
kepadaku keselamatan yang ada di antara dagu (lisan) dan di antara dua paha
(kemaluan), niscaya aku menjamin surga baginya’”.(HR Bukhari
dan Muslim)
Wallahu ‘alam.








0 komentar:
Posting Komentar