.

Selasa, 16 Juli 2013

JANGAN MAU JADI “SUMANTO”





SUMANTO adalah sebuah nama yang pernah menggegerkan dunia kemanusian di negeri ini. Tanpa rasa bersalah dia tega memakan daging manusia yang telah menjadi mayat untuk memperoleh satu kesaktian yang diyakininya. Orang  bergidik, memaki dan menyumpahi perbuatannya. Kata-kata gila, binatang, biadab dan kata-kata kasar lainnya tak ayal lagi disematkan padanya.

Wajar kita benci pada perbuatan Sumanto bahkan harus benci, tetapi terkadang atau bahkan mungkin seringkali kita melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Sumanto. Bukan melakukan dalam arti yang sebenarnya, tapi dalam arti kiasan. Perbuatan apa gerangan yang dikiaskan dengan perbuatan Sumanto ? Yaitu menggunjingkan saudara kita atau yang disebut dalam bahasa agama dengan GHIBAH.

Allah melarang keras Ghibah dalam QS Al-Hujurat ayat 12 Alah dan mengasosiakannya dengan memakan daging saudara yang sudah mati alias makan bangkai manusia.  “.......dan janganlah mengghibah satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang “  (QS Al-Hujurat:12)

Bukankah secara ma’nawi itu sama dengan perbuatan yang dilakukan Sumanto ?

Apa yang dimaksud dengan Ghibah ? Rasululllah mendefinisikan Ghibah dengan "‏ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ "    (membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya). Para shahabat bertanya kepada Rasululalah “ Bagaimana kalau seandainya apa yang kita ucapkan tentang saudara kita memang benar adanya ?’. Itulah yang dinamakan Ghibah. Jika apa yang kita ucapkan tentang saudara kita tidak benar itu sebuah kedustaan yang dosanya jauh lebih besar lagi.   

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ ». قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ :« ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ؟ قَالَ :« إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ » (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah RA, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda ,” Tahukah kalian apakah ghibah itu ?” Para shahabat menjawab ,” Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Kemudian beliau bersabda ,” Yaitu membicarakan saudaramu yang ia tidak suka bila mendengarnya”. Lalu beliau ditanya kembali ,” Bagaiman pendapat engkau kalau itu (pembicaraan tersebut) memang benar terjadi ?” Beliau menjawab ,” Kalau memang sesuai dengan pembicaraanmu, maka itulah ghibah, tetapi jika kamu menyebut sesuatu yang tidak sebenarnya terjadi, berarti kamu telah menuduhnya dengan kebohongan (yang dosanya jauh lebih besar) “ (HR Muslim)

Begitu kejinya ghibah, sampai-sampai ungkapan Siti Aisyah RA (sebagai ekspresi kecemburuan) terhadap Shofiyyah RA (istri Rasulullah keturunan Yahudi) dianggap Rasulullah sebagai kalimat yang dapat merubah (warna dan bau) air lautan. Padahal ungkapan tersebut dinyatakan Siti Aisyah RA hanya dengan sebuah isyarat tangan. 

وعن عائشة رَضِيَ اللهُ عنها ، قالت : قُلْتُ للنبيّ - صلى الله عليه وسلم - : حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كذَا وكَذَا . قَالَ بعضُ الرواةِ : تَعْنِي قَصيرَةً ، فقالَ : لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ البَحْرِ لَمَزَجَتْهُ ! ‏‏‏(‏رواه أبو داود والترمذي ‏‏)‏‏

Dari Aisyah RA, dia berkata kepada Nabi SAW,” Cukuplah bagimu shafiyah, ia begini dan begitu.” Sebagian perawi hadits berkata, bahwa Shafiyah bertubuh pendek. Maka Nabi pun bersabda ,” Kamu telah mengucapkan satu kalimat sangat keji, andaikan ia dicampur dengan air laut niscaya dapat merubahnya (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jadi hati-hati jika ingin membicarakan sesuatu tentang saudara yang dia tidak suka jika mendengarnya, karena
  1. Jika benar, akan menjadi Ghibah yang diasosiasikan oleh Allah dengan makan daging saudaranya yang sudah menjadi mayat.
  2. Jika tidak benar, akan menjadi Dusta yang dosanya bisa lebih besar lagi, karena kita telah menfitnahnya.

Kekurangan, kesalahan atau aib saudara kita bukanlah untuk dibicarakan dan disebarkan tetapi untuk diperbaiki jika memang kita melihatnya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Tentu kita tidak mau menjadi “Sumanto” yang makan daging manusia yang sudah jadi mayat. Maka menjaga lisan adalah solusi tepat untuk menjaga kita dari hal tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : مَنْ يَضْمَنْ لِى مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ (رواه البخاري ومسلة)
Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata ,” Rasulullah bersabda ,’ Barangsiapa yang bisa menjamin kepadaku keselamatan yang ada di antara dagu (lisan) dan di antara dua paha (kemaluan), niscaya aku menjamin surga baginya’”.(HR Bukhari dan Muslim)

Wallahu ‘alam.

0 komentar:

Posting Komentar