Da’wah hadir untuk mengingatkan dan menyelamatkan
manusia dari jurang kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Itulah tema
besar da’wah sejak dikumandangkan secara terbuka oleh “Bapak Da’wah” Nuh as,
sebagaimana yang diinformasikan Allah dalam A-Qur’an .
إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ
قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (1) سورة نوح
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang
kepadanya azab yang pedih". (QS Nuh :1).
Dan tema besar da’wah itu tetap tidak berubah ketika dikumandangkan secara
terbuka oleh “ Nabi Pamungkas Da’wah” Rasulullah Muhammad saw, mengingatkan dan
menyelamatkan manusia dari jurang kegelapan kepada cahaya yang terang
benderang.
Sirah Nabawiyah mencatat tatkala turun
ayat: “ Dan peringatkanlah keluargamu yang terdekat “ (As Syu'ara: 214).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik ke Shofa dan berteriak
memanggil-manggil; 'Wahai bani Fihr, wahai Bani 'Adi dari keturunan Quraisy!
Hingga orang-orang pun berkumpul dan apabila ada di antara mereka yang tidak
bisa hadir, mereka mengutus utusan untuk menghadirinya. Demikian juga Abu Jahal
dan orang-orang Quraisy pun berdatangan. Kemudian Rasul berkata :
أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا
بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا
نَعَمْ مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ
بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ سَائِرَ
الْيَوْمِ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا فَنَزَلَتْ}تَبَّتْ يَدَا
أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ {أخرجه البخاري
“ Apa pendapat kalian jika kuberitahukan kepada kalian bahwa pasukan
berkuda dari musuh di balik lembah ini akan menyerang kalian apakah kalian akan
membenarkanku (mempercayaiku)? Mereka menjawab: Tentu, karena kamu tidak pernah
berdusta. Lalu beliau berkata: 'Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan
adzab yang berat. Maka Abu Lahab berkata: 'Apakah untuk ini engkau mengumpulkan
kami?! Celakalah kamu! ia berkata: Maka Allah azza wa jalla menurunkan
"Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa."
QS Al-Lahab (HR Bukhari)

Da’wah harus selalu hadir dan eksis untuk menerangi kehidupan sehingga
banyak manusia yang bisa terselamatkan dari jurang kegelapan. Dan eksistensi da’wah
itu sendiri terkait dengan keberadaan Rijalud Da’wah (baca : Kader Da’wah).
Semakin banyak dan berkualitas Rijalud Da’wah, da’wah akan semakin eksis,
semakin eksis da’wah semakin terang cahaya yang dipancarkan dan semakin terang
cahaya yang dipancarkan akan semakin banyak manusia yang bisa diselamatkan.
Sebaliknya ketika Rijalud Da’wah sedikit dan tidak berkualitas, da’wah akan
melemah, ketika da’wah lemah cahaya yang dipancarkan akan meredup, dan ketika
cahayanya meredup akan banyak manusia yang tenggelam dalam kegelapan.
Oleh karena itu da’wah harus memiliki “ Rijaalun
Shadaquu “ yaitu sosok Kader Da’wah yang memiliki rasa tanggung jawab,
komitmen, kepekaan dan kepedulian terhadap da’wah, sebagaimana digambarkan
dalam QS Al-Ahzab ayat 23 :
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا
اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ
وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا (23) سورة الأحزاب
“ Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa
yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur.
dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah
(janjinya) “ (QS Al-Ahzab : 23)
Imam Hasan Al-Bana mengingatkan, diantara
karekter yang harus dipenuhi oleh seseorang yang telah bergabung dalam da’wah,
selain iman yang mendalam adalah kemauan yang kuat. Kemauan dan ketulusan niat
ini akan dinilai dengan beberapa ujian dan rintangan. Dan salah satu ujian itu
adalah ujian rasa tanggung jawab, komitmen, kepekaan dan kepedulian terhadap
da’wah. Pernahkan kita merasakan sedih memikirkan da’wah ? Seperti perasaan
sedih dan duka mendalam yang dirasakan oleh Rasulullah saw manakala orang-orang
yang dida’wahinya justru menolak ajakan kepada keselamatan dan kebahagiaan hidup
di dnuia dan akhirat, sebagaiman yang digambarkan Al-Qur’an :
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ
لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا (6) سورة الكهف
Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu
karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman
kepada keterangan ini (Al-Quran). (QS Al-Kahfi:6)
Rasulullah saw sendiri melukiskan
perasaannya terhadap orag-orang yang dida’wahinya lewat sebuah perumpamaan :
إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ
كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ
الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا
فَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا فَأَنَا آخُذُ
بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَهُمْ يَقْتَحِمُونَ فِيهَا )صحيح البخاري(
Perumpamaan diriku dan perumpaman manusia yang
kuda'wahi adalah bagaikan seseorang yang menyalakan api (lampu), dikala api itu
menyinari sekelilingnya, menjadikan serangga-serangga dan hewan menuju api itu,
kemudian orang tersebut menarik serangga-serangga tetapi mereka menuju
kepadanya dan terjerumuskan dalam api, maka akulah yang menarik ikat pinggang
kalian dari api, ketika mereka terjerumus didalamnya. (HR
Bukhari)
Allah telah menganugerahi nikmat
kepada kita dengan memasukan kita ke dalam barisan Rijalud Da’wah. Maka kita
harus syukuri nikmat ini dengan berusaha untuk menjadi Rijalun Shadaquu, yaitu
berusaha menjadi Kader Da’wah yang
memiliki rasa tanggung jawab, komitmen, kepekaan dan kepedulian terhadap da’wah.