.

INFO PENERIMAAN SISWA BARU

Dapatkan Layanan Pendidikan Islam Terpadu BINA ILMI dengan biaya lebih terjangkau Penerimaan : 1 dec 2014 Observasi Calon siswa baru Tahap 1 31 januari 2015

Truly SIT

MENUJU SEKOLAH NASIONAL BERSTANDAR MUTU SEKOLAH ISLAM TERPADU

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 21 November 2014

BELAJAR “MEMINTA” KEPADA “ZAKARIA”










KEKHAWATIRAN mulai merayapi hati Nabi Zakaria as. Usianya beranjak senja, tulang-tulang tubuhnya perlahan melemah, uban pun mulai bertabur di kepalanya. Namun anak yang telah lama didambakan tak kunjung juga hadir. Sedangkan istrinya sendiri ternyata  seorang perempuan yang mandul !

Apa yang membuat Nabi Zakaria khawatir ? Nabi Zakaria sama sekali bukan mengkhwatirkan masa tuanya, tetapi dia mengkhawatirkan masa depan da’wah sepeninggalnya kelak. Dia sangat berharap pewaris dan penerus da’wahnya adalah anak biologis-nya sendiri yang diridhai-Nya.

Walaupun keinginan mendapatkan anak seperti “mission imposible”, Nabi Zakaria tidak pernah putus asa atau kehilangan harapan kepada Rabb-nya. Beliau meminta dan tetap meminta dengan suara lembut penuh harap kepada Allah tanpa sedikitpun dihinggapi rasa kecewa walaupun permintaannya belum dikabulkan-Nya.

Kisah permintaan Zakaria yang mengharu biru ini, kemudian Allah abadikan menjadi pembukaan surat Maryam sebagai bagian rahmat yang diberikan kepada salah seorang hamba-Nya.
كهيعص (1) ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3) قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6(
Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad. (yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai".

Tak ada yang “imposible” bagi Allah. Allah pun menjawab rintihan Zakaria dengan memberikan kabar gembira akan kelahiran seorang anak dari rahim istrinya yang telah divonis mandul.
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا (7(
“ Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

Nabi Zakaria seakan mimpi dan tak percaya dengan kabar ini. Sampai dia meminta “ penegasan “ kepada Allah dengan mengulang kembali dirinya yang sudah tua dan beristrikan seorang perempuan yang mandul. Dan Allah pun menegaskan kembali bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.
قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8) قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا (9) قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا (10) فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (11)

Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, Padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua". Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, Padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, Padahal kamu sehat". Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang “

Kecemasan dan kekhawatiran diakui atau tidak, seringkali menghinggapi diri kita ketika membayangkan “ masa depan “. Realitas kehidupan saat ini yang terbatas dan serba tidak memungkinkan membuat kecemasan dan kekhawatiran tersebut semakin bertambah. Bahkan ada sebagian dari saudara kita yang sampai kepada tingkat “ Hopeless” terkait masa depannya.

Merasakan kecemasan dan kekhawatiran terhadap masa depan adalah sebuah kewajaran dalam kehidupan, sebagaimana halnya juga yang dialami oleh Nabi Zakaria as. Yang tidak boleh adalah kita kehilangan harapan dengan masa depan, karena masa depan adalah rahmat Allah yang akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kita tidak boleh sedikitpun berputus asa dari rahmat-Nya.
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir “ (QS Yusuf : 87)

Maka mintalah masa depan yang lebih baik untuk diri, keluarga, da’wah dan bangsa ini kepada Allah SWT di keheningan malam dengan suara yang lembut . Jadikan kecemasan dan kekhawatiran yang hinggap di hati sebagai energi untuk lebih mendekatkan diri dan menggantungkan seluruh harapan  hanya kepada-Nya tanpa rasa bosan atau kecewa. Yakinlah tak ada yang tidak mungkin jika Dia menghendakinya.

Selasa, 18 November 2014

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ.....


Dalam lintasan perjalanan da’wah para anbiya, Ibrahim AS adalah nabi yang sangat phenomenal . Dari garis keturunannya lahir para nabi, sehingga beliau dikenal dengan sebutan Abul Anbiya.

Ketegaran dan keteguhannya dalam berda’wah telah mendudukkan dirinya dalam jajaran Ulul Azmi Minar Rusul.
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ (35) سورة الأحقاف
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik (QS 46:35)

Kepatuhannya yang tanpa reserve kepada Allah, telah menghantarkannya menjadi kesayangan-Nya (khalilullah).
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (125) سورة النساء
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.(QS 4:125)

Konsistensinya dalam menegakkan aqidah tauhidullah telah menempatkan dirinya dalam satu diantara dua nabi yang  menjadi uswatun hasanah.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ ...(4) سورة الممتحنة
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja...(QS 60:4)

Dan hal lain, dari banyak hal yang tidak bisa disebutkan semuanya di sini, dari nabi Ibrahim adalah terkait visi da’wahnya yang jauh melintasi generasi. Visi tersebut beliau formulasikan dalam bentuk do’a-do’a yang dilantunkannya kepada Allah swt. Dan diantara do’anya adalah :
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Al-Baqarah:129)

Do’a ini dilantunkan oleh nabi Ibrahim as ketika pertama kali membangun dasar-dasar Baitullah bersama putranya Ismail, meminta dihadirkan kepada kaumnya kelak seorang Rasul sebagai Murabbi untuk men-Tarbiyah ummat dengan membacakan ayat-ayat Allah (tilawah), mengajarkan kitab dan hikmah (ta’lim) dan mensucikan mereka (tazkiyah).
Do’a tersebut kemudian Allah kabulkan setelah melintasi beberapa generasi dengan menghadirkan Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah firmankan di Al-Qur’an :
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151)
Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS Al- Baqarah : 151)

Hal senada juga disebutkan Allah di QS Ali-Imran 164 dan QS Al-Jumu’ah : 2 (silakan lihat sendiri ayatnya)

Kalau kita perhatikan do’a nabi Ibrahim as dalam QS Al-Baqarah:129, dijawab dan dikabulkan Allah dalam QS Al-Baqarah:151, QS Ali-Imran:164 dan QS Al-Jumu’ah:2 dengan sedikit koreksi urutan. Nabi Ibrahim meminta dihadirkan Rasul dengan peran tilawah, ta’lim dan tazkiyah, Allah mengabulkannya dengan merubah urutan perannya menjadi tilawah, tazkiyah dan ta’lim. Kenapa ? (Silakan cari hikmahnya)

Jadi Tarbiyah yang Insya Allah sedang kita jalani sekarang ini merupakan buah panjang dari do’a lintas generasi yang telah dilantunkan Nabi Ibrahim as. Maka jangan sekali-kali kita menyia-nyiakannya.
Dari mana datang lintah
Dari Plaju ke Tanjung Enim
Dari mana datang tarbiyah
Dari do’a nabi Ibrahim
Wallahu ‘Alam.

BELAJAR “TAWADHU” KEPADA “SULAIMAN”



BALQIS Ratu Saba memilih melakukan “jalur diplomasi” untuk menjawab “Surat Da’wah” Sulaiman yang dikirim oleh Burung Hud-Hud. Balqis ingin mengetahui apakah Sulaiman benar seorang nabi atau hanya seorang raja pada umumnya yang “haus kekuasaan”. Setelah utusannya yang membawa berbagai hadiah ditolak mentah-mentah oleh Sulaiman bahkan dijawab dengan ancaman pasukan yang tak akan sanggup dilawannya, Balqis berencana datang untuk melakukan diplomasi langsung dengan Sulaiman.

Mendengar rencana kedatangan Balqis, Nabi Sulaiman pun berencana membuat sebuah “ kejutan “ kepada Balqis ketika tiba di kerajaannya. Kemudian Nabi Sulaiman mengumpulkan para pembantu kerajaannya :
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".  (QS An-Nanl : 38)

Ifrit dari golongan Jin segera berkata memberikan kesanggupan mendatangkan singgasana Balqis sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduk. Kemudian seorang “ ulama “ dari golongan manusia berkata memberikan kesanggupan mendatangkan singgasana Balqis sebelum Sulaiman berkedip.
قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ .... (40)
Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".

 

Luar biasa ! Para pembantu Sulaiman sanggup mendatangkan sebuah “ benda ” dari Saba (kurang lebih Yaman sekarang) ke Kerajaan Sulaiman (kurang lebih Palestina sekarang) dalam hitungan detik bahkan mungkin kurang dari satu detik. Jarak antara Yaman-Palestina sendiri sekitar 2.000 km (duaribu kilometer). Sebuah pencapaian yang sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menyamainya.

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah sikap tawadhu yang ditunjukan Nabi Sulaiman as, ketika singgasana Balqis tampak di hadapannya. Sikap tawadhu yang muncul dari sebuah keyakinan bahwa semua yang dia dapatkan adalah karunia dari Allah sebagai ujian apakah dia bersyukur atau kufur terhadap-Nya.
فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".

Sikap tawadhu Sulaiman as di hadapan karunia Allah yang telah dilimpahkan kepadanya berhasil meruntuhkan kesombongan Ratu Balqis sehingga dia mengakui kezhaliman dirinya selama ini, akhirnya menyatakan keislamannya bersama dengan Sulaiman as.
قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (44)
berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".

Keyakinan dan kesadaran bahwa semua yang diraih dan dimiliki adalah karunia Allah swt untuk menguji rasa syukur atau kufur kepada-Nya akan melahirkan sikap tawadhu (rendah hati) yang menjauhkan diri dari keangkuhan atau kesombongan. Nabi Sulaiman as yang dianugrahi kekuasaan yang sangat tinggi dan kekayaan yang sangat melimpah menjadi contoh bagi kita dalam ke-tawadhu-an.

Hal ini kontradiktif dengan sikap yang diambil Qarun. Kekayaan yang berhasil dimilikinya diakui sebagai hasil kerja keras dan kepandaiannya semata.
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku (Al-Qashash :78)

Dan argumentasi Qarun kemudian Allah patahkan, dengan cara membenamkan Qarun dan seluruh hartanya ke dalam perut bumi tanpa bisa dia berbuat apapun dan tak ada seorangpun yang bisa menolongnya.
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81)
Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Al-Qashash :81)

Maka tawadhu-lah di depan setiap keberhasilan yang kita raih, karena semua itu adalah karunia dari Allah SWT untuk menguji rasa syukur kita kepada-Nya. Dan dengan ketawadhu-an tersebut Insya Allah akan membuat orang di sekeliling kita berserah diri kepada Allah bersama kita.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ.....



Dalam lintasan perjalanan da’wah para anbiya, Ibrahim AS adalah nabi yang sangat phenomenal . Dari garis keturunannya lahir para nabi, sehingga beliau dikenal dengan sebutan Abul Anbiya.

Ketegaran dan keteguhannya dalam berda’wah telah mendudukkan dirinya dalam jajaran Ulul Azmi Minar Rusul.
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ (35) سورة الأحقاف
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik (QS 46:35)

Kepatuhannya yang tanpa reserve kepada Allah, telah menghantarkannya menjadi kesayangan-Nya (khalilullah).
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (125) سورة النساء
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.(QS 4:125)

Konsistensinya dalam menegakkan aqidah tauhidullah telah menempatkan dirinya dalam satu diantara dua nabi yang  menjadi uswatun hasanah.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ ...(4) سورة الممتحنة
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja...(QS 60:4)

Dan hal lain, dari banyak hal yang tidak bisa disebutkan semuanya di sini, dari nabi Ibrahim adalah terkait visi da’wahnya yang jauh melintasi generasi. Visi tersebut beliau formulasikan dalam bentuk do’a-do’a yang dilantunkannya kepada Allah swt. Dan diantara do’anya adalah :
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Al-Baqarah:129)

Do’a ini dilantunkan oleh nabi Ibrahim as ketika pertama kali membangun dasar-dasar Baitullah bersama putranya Ismail, meminta dihadirkan kepada kaumnya kelak seorang Rasul sebagai Murabbi untuk men-Tarbiyah ummat dengan membacakan ayat-ayat Allah (tilawah), mengajarkan kitab dan hikmah (ta’lim) dan mensucikan mereka (tazkiyah).
Do’a tersebut kemudian Allah kabulkan setelah melintasi beberapa generasi dengan menghadirkan Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah firmankan di Al-Qur’an :
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151)
Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS Al- Baqarah : 151)

Hal senada juga disebutkan Allah di QS Ali-Imran 164 dan QS Al-Jumu’ah : 2 (silakan lihat sendiri ayatnya)

Kalau kita perhatikan do’a nabi Ibrahim as dalam QS Al-Baqarah:129, dijawab dan dikabulkan Allah dalam QS Al-Baqarah:151, QS Ali-Imran:164 dan QS Al-Jumu’ah:2 dengan sedikit koreksi urutan. Nabi Ibrahim meminta dihadirkan Rasul dengan peran tilawah, ta’lim dan tazkiyah, Allah mengabulkannya dengan merubah urutan perannya menjadi tilawah, tazkiyah dan ta’lim. Kenapa ? (Silakan cari hikmahnya)

Jadi Tarbiyah yang Insya Allah sedang kita jalani sekarang ini merupakan buah panjang dari do’a lintas generasi yang telah dilantunkan Nabi Ibrahim as. Maka jangan sekali-kali kita menyia-nyiakannya.
Dari mana datang lintah
Dari Plaju ke Tanjung Enim
Dari mana datang tarbiyah
Dari do’a nabi Ibrahim
Wallahu ‘Alam.