.

Jumat, 21 November 2014

BELAJAR “MEMINTA” KEPADA “ZAKARIA”










KEKHAWATIRAN mulai merayapi hati Nabi Zakaria as. Usianya beranjak senja, tulang-tulang tubuhnya perlahan melemah, uban pun mulai bertabur di kepalanya. Namun anak yang telah lama didambakan tak kunjung juga hadir. Sedangkan istrinya sendiri ternyata  seorang perempuan yang mandul !

Apa yang membuat Nabi Zakaria khawatir ? Nabi Zakaria sama sekali bukan mengkhwatirkan masa tuanya, tetapi dia mengkhawatirkan masa depan da’wah sepeninggalnya kelak. Dia sangat berharap pewaris dan penerus da’wahnya adalah anak biologis-nya sendiri yang diridhai-Nya.

Walaupun keinginan mendapatkan anak seperti “mission imposible”, Nabi Zakaria tidak pernah putus asa atau kehilangan harapan kepada Rabb-nya. Beliau meminta dan tetap meminta dengan suara lembut penuh harap kepada Allah tanpa sedikitpun dihinggapi rasa kecewa walaupun permintaannya belum dikabulkan-Nya.

Kisah permintaan Zakaria yang mengharu biru ini, kemudian Allah abadikan menjadi pembukaan surat Maryam sebagai bagian rahmat yang diberikan kepada salah seorang hamba-Nya.
كهيعص (1) ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3) قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6(
Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad. (yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai".

Tak ada yang “imposible” bagi Allah. Allah pun menjawab rintihan Zakaria dengan memberikan kabar gembira akan kelahiran seorang anak dari rahim istrinya yang telah divonis mandul.
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا (7(
“ Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

Nabi Zakaria seakan mimpi dan tak percaya dengan kabar ini. Sampai dia meminta “ penegasan “ kepada Allah dengan mengulang kembali dirinya yang sudah tua dan beristrikan seorang perempuan yang mandul. Dan Allah pun menegaskan kembali bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.
قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8) قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا (9) قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا (10) فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (11)

Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, Padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua". Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, Padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, Padahal kamu sehat". Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang “

Kecemasan dan kekhawatiran diakui atau tidak, seringkali menghinggapi diri kita ketika membayangkan “ masa depan “. Realitas kehidupan saat ini yang terbatas dan serba tidak memungkinkan membuat kecemasan dan kekhawatiran tersebut semakin bertambah. Bahkan ada sebagian dari saudara kita yang sampai kepada tingkat “ Hopeless” terkait masa depannya.

Merasakan kecemasan dan kekhawatiran terhadap masa depan adalah sebuah kewajaran dalam kehidupan, sebagaimana halnya juga yang dialami oleh Nabi Zakaria as. Yang tidak boleh adalah kita kehilangan harapan dengan masa depan, karena masa depan adalah rahmat Allah yang akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kita tidak boleh sedikitpun berputus asa dari rahmat-Nya.
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir “ (QS Yusuf : 87)

Maka mintalah masa depan yang lebih baik untuk diri, keluarga, da’wah dan bangsa ini kepada Allah SWT di keheningan malam dengan suara yang lembut . Jadikan kecemasan dan kekhawatiran yang hinggap di hati sebagai energi untuk lebih mendekatkan diri dan menggantungkan seluruh harapan  hanya kepada-Nya tanpa rasa bosan atau kecewa. Yakinlah tak ada yang tidak mungkin jika Dia menghendakinya.

0 komentar:

Posting Komentar