
KEKHAWATIRAN mulai merayapi hati Nabi Zakaria as. Usianya beranjak senja, tulang-tulang tubuhnya perlahan melemah, uban pun mulai bertabur di kepalanya. Namun anak yang telah lama didambakan tak kunjung juga hadir. Sedangkan istrinya sendiri ternyata seorang perempuan yang mandul !
Apa yang membuat Nabi Zakaria khawatir ? Nabi Zakaria sama sekali bukan mengkhwatirkan
masa tuanya, tetapi dia mengkhawatirkan masa depan da’wah sepeninggalnya kelak.
Dia sangat berharap pewaris dan penerus da’wahnya adalah anak biologis-nya
sendiri yang diridhai-Nya.
Walaupun keinginan mendapatkan anak seperti “mission imposible”, Nabi
Zakaria tidak pernah putus asa atau kehilangan harapan kepada Rabb-nya. Beliau meminta
dan tetap meminta dengan suara lembut penuh harap kepada Allah tanpa sedikitpun
dihinggapi rasa kecewa walaupun permintaannya belum dikabulkan-Nya.
Kisah permintaan Zakaria yang mengharu biru ini, kemudian Allah abadikan
menjadi pembukaan surat Maryam sebagai bagian rahmat yang diberikan kepada salah
seorang hamba-Nya.
كهيعص (1) ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3) قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي
وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ
امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ
رَبِّ رَضِيًّا (6(
“ Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad. (yang dibacakan ini adalah) penjelasan
tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,yaitu tatkala ia berdoa
kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya
tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah
kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir
terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka
anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan
mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang
yang diridhai".
Tak ada yang “imposible” bagi Allah. Allah pun menjawab rintihan
Zakaria dengan memberikan kabar gembira akan kelahiran seorang anak dari rahim
istrinya yang telah divonis mandul.
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ
لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا (7(
“ Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira
kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami
belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
Nabi Zakaria seakan mimpi dan tak percaya dengan kabar ini. Sampai dia
meminta “ penegasan “ kepada Allah dengan mengulang kembali dirinya yang
sudah tua dan beristrikan seorang perempuan yang mandul. Dan Allah pun
menegaskan kembali bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.
قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ
بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8) قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ
هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا (9) قَالَ رَبِّ
اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ
سَوِيًّا (10) فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ
أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (11)
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada
anak bagiku, Padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri)
Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua". Tuhan berfirman:
"Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku;
dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, Padahal kamu (di waktu
itu) belum ada sama sekali". Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah
aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu
tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, Padahal kamu
sehat". Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat
kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang “
Kecemasan dan kekhawatiran diakui atau tidak, seringkali menghinggapi diri
kita ketika membayangkan “ masa depan “. Realitas kehidupan saat ini
yang terbatas dan serba tidak memungkinkan membuat kecemasan dan kekhawatiran
tersebut semakin bertambah. Bahkan ada sebagian dari saudara kita yang sampai
kepada tingkat “ Hopeless” terkait masa depannya.
Merasakan kecemasan dan kekhawatiran terhadap
masa depan adalah sebuah kewajaran dalam kehidupan, sebagaimana halnya juga
yang dialami oleh Nabi Zakaria as. Yang tidak boleh adalah kita kehilangan
harapan dengan masa depan, karena masa depan adalah rahmat Allah yang akan diberikan
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kita tidak boleh sedikitpun berputus asa
dari rahmat-Nya.
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ
رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ
الْكَافِرُونَ
“...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir “ (QS Yusuf : 87)
Maka mintalah masa depan yang lebih baik untuk diri, keluarga, da’wah dan
bangsa ini kepada Allah SWT di keheningan malam dengan suara yang lembut .
Jadikan kecemasan dan kekhawatiran yang hinggap di hati sebagai energi untuk
lebih mendekatkan diri dan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya tanpa rasa bosan atau kecewa.
Yakinlah tak ada yang tidak mungkin jika Dia menghendakinya.







0 komentar:
Posting Komentar