
BALQIS Ratu Saba memilih melakukan “jalur diplomasi” untuk menjawab
“Surat Da’wah” Sulaiman yang dikirim oleh Burung Hud-Hud. Balqis ingin
mengetahui apakah Sulaiman benar seorang nabi atau hanya seorang raja pada
umumnya yang “haus kekuasaan”. Setelah utusannya yang membawa berbagai hadiah
ditolak mentah-mentah oleh Sulaiman bahkan dijawab dengan ancaman pasukan yang
tak akan sanggup dilawannya, Balqis berencana datang untuk melakukan diplomasi
langsung dengan Sulaiman.
Mendengar rencana
kedatangan Balqis, Nabi Sulaiman pun berencana membuat sebuah “ kejutan
“ kepada Balqis ketika tiba di kerajaannya. Kemudian Nabi Sulaiman mengumpulkan
para pembantu kerajaannya :
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ
يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
Berkata Sulaiman:
"Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup
membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri". (QS An-Nanl : 38)
Ifrit dari golongan
Jin segera berkata memberikan kesanggupan mendatangkan singgasana Balqis
sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduk. Kemudian seorang “ ulama
“ dari golongan manusia berkata memberikan kesanggupan mendatangkan singgasana
Balqis sebelum Sulaiman berkedip.
قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ
الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ
لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا
آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ....
(40)
Berkata 'Ifrit (yang
cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa
singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya
aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah
seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana
itu kepadamu sebelum matamu berkedip".
Luar biasa ! Para pembantu Sulaiman sanggup mendatangkan sebuah “ benda
” dari Saba (kurang lebih Yaman sekarang) ke Kerajaan Sulaiman (kurang lebih
Palestina sekarang) dalam hitungan detik bahkan mungkin kurang dari satu detik.
Jarak antara Yaman-Palestina sendiri sekitar 2.000 km (duaribu kilometer).
Sebuah pencapaian yang sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa
menyamainya.
Dan yang lebih luar biasa lagi adalah
sikap tawadhu yang ditunjukan Nabi Sulaiman as, ketika singgasana Balqis tampak
di hadapannya. Sikap tawadhu yang muncul dari sebuah keyakinan bahwa semua yang
dia dapatkan adalah karunia dari Allah sebagai ujian apakah dia bersyukur atau
kufur terhadap-Nya.
فَلَمَّا رَآهُ
مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ
أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ
فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)
Maka tatkala Sulaiman
melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini
Termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau
mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya
Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar,
Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Sikap tawadhu
Sulaiman as di hadapan karunia Allah yang telah dilimpahkan kepadanya berhasil
meruntuhkan kesombongan Ratu Balqis sehingga dia mengakui kezhaliman dirinya
selama ini, akhirnya menyatakan keislamannya bersama dengan Sulaiman as.
قَالَتْ رَبِّ إِنِّي
ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (44)
berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku,
Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri
bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".
Keyakinan dan kesadaran bahwa semua yang
diraih dan dimiliki adalah karunia Allah swt untuk menguji rasa syukur atau
kufur kepada-Nya akan melahirkan sikap tawadhu (rendah hati) yang menjauhkan
diri dari keangkuhan atau kesombongan. Nabi Sulaiman as yang dianugrahi
kekuasaan yang sangat tinggi dan kekayaan yang sangat melimpah menjadi contoh
bagi kita dalam ke-tawadhu-an.
Hal ini kontradiktif
dengan sikap yang diambil Qarun. Kekayaan yang berhasil dimilikinya diakui
sebagai hasil kerja keras dan kepandaiannya semata.
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
Qarun berkata:
"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku (Al-Qashash :78)
Dan argumentasi Qarun kemudian Allah
patahkan, dengan cara membenamkan Qarun dan seluruh hartanya ke dalam perut
bumi tanpa bisa dia berbuat apapun dan tak ada seorangpun yang bisa
menolongnya.
فَخَسَفْنَا بِهِ
وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ
اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81)
Maka Kami benamkanlah
Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun
yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang
(yang dapat) membela (dirinya). (Al-Qashash :81)
Maka tawadhu-lah di depan setiap keberhasilan yang kita raih, karena semua
itu adalah karunia dari Allah SWT untuk menguji rasa syukur kita kepada-Nya.
Dan dengan ketawadhu-an tersebut Insya Allah akan membuat orang di sekeliling
kita berserah diri kepada Allah bersama kita.








0 komentar:
Posting Komentar