.

Selasa, 18 November 2014

BELAJAR “TAWADHU” KEPADA “SULAIMAN”



BALQIS Ratu Saba memilih melakukan “jalur diplomasi” untuk menjawab “Surat Da’wah” Sulaiman yang dikirim oleh Burung Hud-Hud. Balqis ingin mengetahui apakah Sulaiman benar seorang nabi atau hanya seorang raja pada umumnya yang “haus kekuasaan”. Setelah utusannya yang membawa berbagai hadiah ditolak mentah-mentah oleh Sulaiman bahkan dijawab dengan ancaman pasukan yang tak akan sanggup dilawannya, Balqis berencana datang untuk melakukan diplomasi langsung dengan Sulaiman.

Mendengar rencana kedatangan Balqis, Nabi Sulaiman pun berencana membuat sebuah “ kejutan “ kepada Balqis ketika tiba di kerajaannya. Kemudian Nabi Sulaiman mengumpulkan para pembantu kerajaannya :
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".  (QS An-Nanl : 38)

Ifrit dari golongan Jin segera berkata memberikan kesanggupan mendatangkan singgasana Balqis sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduk. Kemudian seorang “ ulama “ dari golongan manusia berkata memberikan kesanggupan mendatangkan singgasana Balqis sebelum Sulaiman berkedip.
قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ .... (40)
Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".

 

Luar biasa ! Para pembantu Sulaiman sanggup mendatangkan sebuah “ benda ” dari Saba (kurang lebih Yaman sekarang) ke Kerajaan Sulaiman (kurang lebih Palestina sekarang) dalam hitungan detik bahkan mungkin kurang dari satu detik. Jarak antara Yaman-Palestina sendiri sekitar 2.000 km (duaribu kilometer). Sebuah pencapaian yang sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menyamainya.

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah sikap tawadhu yang ditunjukan Nabi Sulaiman as, ketika singgasana Balqis tampak di hadapannya. Sikap tawadhu yang muncul dari sebuah keyakinan bahwa semua yang dia dapatkan adalah karunia dari Allah sebagai ujian apakah dia bersyukur atau kufur terhadap-Nya.
فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".

Sikap tawadhu Sulaiman as di hadapan karunia Allah yang telah dilimpahkan kepadanya berhasil meruntuhkan kesombongan Ratu Balqis sehingga dia mengakui kezhaliman dirinya selama ini, akhirnya menyatakan keislamannya bersama dengan Sulaiman as.
قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (44)
berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".

Keyakinan dan kesadaran bahwa semua yang diraih dan dimiliki adalah karunia Allah swt untuk menguji rasa syukur atau kufur kepada-Nya akan melahirkan sikap tawadhu (rendah hati) yang menjauhkan diri dari keangkuhan atau kesombongan. Nabi Sulaiman as yang dianugrahi kekuasaan yang sangat tinggi dan kekayaan yang sangat melimpah menjadi contoh bagi kita dalam ke-tawadhu-an.

Hal ini kontradiktif dengan sikap yang diambil Qarun. Kekayaan yang berhasil dimilikinya diakui sebagai hasil kerja keras dan kepandaiannya semata.
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku (Al-Qashash :78)

Dan argumentasi Qarun kemudian Allah patahkan, dengan cara membenamkan Qarun dan seluruh hartanya ke dalam perut bumi tanpa bisa dia berbuat apapun dan tak ada seorangpun yang bisa menolongnya.
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81)
Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Al-Qashash :81)

Maka tawadhu-lah di depan setiap keberhasilan yang kita raih, karena semua itu adalah karunia dari Allah SWT untuk menguji rasa syukur kita kepada-Nya. Dan dengan ketawadhu-an tersebut Insya Allah akan membuat orang di sekeliling kita berserah diri kepada Allah bersama kita.

0 komentar:

Posting Komentar