.

Senin, 27 Mei 2013

BELAJAR “MIMPI” KEPADA “YUSUF”







وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا....
“ Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud. Dan berkata Yusuf “ Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan…..” (QS Yusuf:100)

Itulah adegan terakhir dalah kisah dramatis ” Yusuf Menggapai Mimpi”. Salah satu kisah dalam Al Qur’an yang berhasil menyabet predikat “Ahsanal Qoshos” (The Best Story).
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
 Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui “ (QS Yusuf : 3)

Kisah yang dibuka dengan sebuah dialog antara Yusuf Kecil dengan ayahnyaYa’qub AS tentang mimpi besarnya tunduknya sebelas bintang, matahari dan bulan di hadapannya.
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
“(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya :” Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku “ 
(QS Yusuf:4).

Mungkinkah ?

Melihat adegan demi adegan berikutnya, rasanya tidak mungkin Yusuf akan berhasil mewujudkan impiannya. Persekongkolan jahat antara syetan dan saudara-saudaranya telah merubah arah perjalanan hidup Yusuf dan menyimpangkan langkahnya menuju impiannya. Dan setelah itu hanya penderitaan demi penderitaan yang menemani hari-harinya.


Dipisahkan secara paksa dari orang yang dicintai dan mencintainya, terkurung di kegelapan dasar sumur tua, menjadi budak yang diperjual belikan di pasar. Itulah urut-urutan berikutnya dari perjalanan hidup Yusuf sampai akhirnya dia dibeli oleh seorang bangsawan Mesir untuk dijadikan pelayan di rumahnya sampai Yusuf tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa yang sempurna ketampannya laksana malaikat yang mulia.
.......وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ
” ....Dan mereka berkata : Maha Sempurna Allah, ini (Yusuf) bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia ” (QS Yusuf: 31)

Ternyata penderitaan belum berakhir, ketampanannnya justru kemudian mengantarkannya ke puncak penderitaannya, dijebloskan ke penjara yang pengap tanpa salah. Di mana mimpinya dahulu ? Apa yang bisa dilakukan Yusuf dalam penjara untuk mewujudkan impiannya ?

Luar biasa, dalam puncak deritanya justru Yusuf mampu menemukan dan mengasah potensi dirinya, dia mampu menemukan titik terkuat dalam dirinya. Maka meskipun samar dan tersembunyi celah keberuntungan mulai menghampiri dirinya. Prestasi kecil yang diraihnya ketika menjawab problem yang dihadapi dua temannya di dalam penjara menjadi The Turning Point menuju impiannya, walaupun dia masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Tapi Yusuf tidak putus asa, dia tetap berusaha, berusaha dan berusaha meningkatkan kompetensi dirinya walaupun berada di balik penjara yang pengap.

Akhirnya saat itu tiba, peluang besar terkuak dan tidak ada seorangpun yang mampu mengambilnya kecuali Yusuf. Maka dari balik penjara yang dingin dan pengap dia berjalan ke istana yang hangat dan megah mengambil peluang besar tersebut sambil berkata :
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai lagi berpengetahuan ” (QS Yusuf 55)

Jalan menuju impian semakin terkuak lebar di hadapan Yusuf, derita tak lagi mampu menahan langkah Yusuf untuk meraih takdir yang diimpikannya semasa kecil; sebelas bintang, bulan dan matahari bersujud di hadapannya. Denga air mata berlinang Yusuf merayakan kemenangannya sambil bersimpuh dan menengadahkan ke dua belah tangannya kemudian dengan suara lirih berkata :
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh ” (QS Yusuf 101)

Ini bukan cerita pengantar tidur, bukan kisah dari negeri antah berantah, tapi sebuah pelajaran Tuhan yang mengguncang fikiran, menjungkir balikan paradigma, menyengat perasaan dan membakar jiwa. Sebuah taujih Rabbani yang akan menghapuskan kata ”Tidak Bisa” dalam kamus kehidupan, membuang kata ”Tidak Mungkin” dalam catatan harian. Sebuah penawar Ilahi di saat duka dan putus asa.

Mimpikanlah keberhasilan Anda sekarang, pilihlah jalan yang paling sulit untuk dilalui, panjatkanlah gunung yang paling terjal untuk didaki, ambil laut yang terdalam untuk disebrangi, kemudian bersabarlah sebentar maka yakinkanlah jalan menuju impian itu akan terkuak lebar di hadapan Anda. Terakhir jangan lupa rayakan kemenangan Anda dengan ledakan rasa syukur, guyuran air mata ikhlas, dan rintihan do’a pada Sang Pembuat Takdir dari mimpi-mimpi kita.

Sekarang ambilah buku harian Anda, tuliskan tebal-tebal dengan huruf paling besar tentang MIMPI ANDA, yakinkan hati Anda akan mampu meraihnya, kemudian bersabarlah, maka ANDALAH YUSUF DARI MIMPI ITU.


Tema Bulan Maret : Belajar Kepada.....

0 komentar:

Posting Komentar